Makalah Model Komunikasi

MODEL  KOMUNIKASI

Paper ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah: Teori Komunikasi

Dosen Pengampu: Nurhana Marantika

Disusun oleh: Miftahul Haq

NIM: 372016521479

Programstudi Ilmu Komunikasi

Fakultas Humaniora

Universitas Darussalam Gontor

1438-2017


BAB. I

PENDAHULUAN

1.     Latar Belakang

Komunikasi pada zaman ini merupakan sebuah fenomena yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat awam di seluruh dunia. Komunikasi sudah seperti sebuah kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Tiap  orang  di dunia saat ini, memerlukan komunikasi, baik itu dengan teman, rekan kerja, kantor, kelompok, dan lain sebagainya. Mereka seakan tidak bias dipisahkan dari yang namanya komunikasi.

Dewasa ini, komunikasi sudah semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi yang ada didunia ini. Sehingga dalam mempelajarinya, timbulah beberapa model yang menggambarkan tentang sekema komunikasi-komunikasi  yang ada di dunia ini. Baik itu merupakan komunikasi antar individu, maupun individu dengan kelompok, dan sebagainya.

Dalam paper ini, saya selaku penulis akan menguraikan tentang penjelasan masing-masing model komunikasi, diiringi  dengan tokoh-tokoh pengusung modelnya.

2.     Rumusan Makalah

  1. Apa definisi dari Model Komunikasi?
  2. Apa saja pembagian Model-model Komunikasi?
  3. Siapa saja yang menjadi tokoh pada model komunikasi?
  4. Siapa tokoh ahli yang mendukung tiap model tersebut?

3.     Tujuan Penulisan

Paper ini disusun dengan tujuan agar pembaca dapat mengetahui dan memahami model-model yang ada dalam teori komunikasi. Dan dapat mengerti tentang sekema arus komunikasi yang  terjadi  di setiap model-model nya. Serta lebih mengenal tokoh-tokoh yang menjelaskan model  tersebut.


BAB. II

PEMBAHASAN

1.     Pengertian Model Komunikasi

Ada orang yang gemar membuat model pesawat tiruan, mobil-mobilan, dan benda-benda lainnya.model ini membantu mereka melihat model mereka dengan cara yang berbeda. Insinyur industri dan ilmuan melakukan hal yang serupa. Menarik pelajaran dari sebuah model sebelum mereka membangun sesuatu yang sebenarnya. Model Komunikasi berperan seperti itu, dengan membuat tiruan proses. Tetapi model tidak lah sempurna. Kenyataan ini terutama berlaku ketika subjek yang dibuatkan model nya adalah subjek yang kompleks. Sebuah arsitektur misalnya, mungkin punya model yang bias dilihat oleh pengunjung. Namun, ada juga model system pemanas, pola lalulintas, kelistrikan, saluran air, dan ventilasi. Tak satupun model-model ini yang komplit atau akurat dalam setiap detail nya, namun tetap ada gunanya.[1]

Model komunikasi adalah merupakan gambaran sederhana dari proses komunikasi yang memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi dengan komponen lainnya.

Menurut Sereno dan Mortensen, suatu Model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Suatu model merepresentasikan secara abstrak ciri-ciri penting dan menghilangkan rincian komunikasi yang tidak perlu dalam “dunia nyata”.[2]

2.     Model-model Komunikasi

  1. Model Komunikasi Linear

Model ini merupakan model yang paling klasik dalam ilmu komunikasi. Bisa juga disebut sebagai model retorikal. Model ini membuat rumusan tentang model komunikasi verbal yang pertama. Komunikasi terjadi saat pembicara menyampaikan pesannya kepada khalayak dengan tujuan mengubah perilaku mereka. Yang memiliki sifat komunikasi dalam satu arah. Yaitu, dari sumber kearah penerima pesan.

Model linear ini didukung oleh teori model Harold Laswell, Aristoteles, dan Berlo serta dikembangkan oleh Claude Shannon dan Waren Weaver (1949) yang menidentifikasi elemen-elemen utama proses komunikasi: Sumber, pesan, saluran, penerima, dan efek. Oleh  karena itu, riset pada waktu itu sangat memperhatikan persuasi dan propaganda, seakan memberikan kesan. Karena model ini bersifat satu arah.

  1. Model Komunikasi Peluru/Jarum

Media massa dianggap sangat perkasa (powerful) dalam memberikan efek langsung. Komunikator menggunakan media massa ini sebagai cara untuk dapat mempengaruhi khalayak dalam jumlah yang banyak. Sehingga beberapa dalam periode ini tampak membentuk citra media massa yang sangat kuat. Seperti contoh, siaran Radio Orson Welles di tahun 1938 tentang invasi makhluk dari Planet Mars yang menyebabkan ribuan orang menjadi panik diseluruh Amerika Serikat.

Selanjutnnya, pada zaman sekarang. Peneliti komunikasi tidak lagi menemukan khalayak yang pasif tentang suatu informasi, yang  membiarkan begitu saja percaya dan mengikuti setiap pesan-pesan yyang disampaikan oleh media massa. Tetapi, para peneliti menemukan khalayak yang sangat aktif memilih apa yang hendak dilihat, diintervensi, dan diingat dari media-media yang ada.

Model komunikasi ini memiliki aliran pesan yang dipengaruhi kearah yang lain. Yang berawal dari pernerima pesan lalu ke arah pengirim pesan. Seakan seperti memberikan sebuah feedback kepada komunikator/pemberi pesan. Akan tetapi, meskipun berlawanan dengan model yang sebelumnya yaitu model komunikasi yang linear. Model komunikasi tersebut tetap bertahan. Model ini didukung dengan model komunikasi yang diungkapkan oleh Defleur.

  1. Model Komunikasi Sirkuler

Titik pemusatan komunikasi konvergen (sirkuler) yang ada dalam definisi komunikasi secara luas adalah bahwa komunikasi merupakan sebuah proses. Orientasi pengertian komunikasi sebagai suatu proses adalah bahwa komunikasi itu proses yang kompleks, berlajut/kontinu dan tidak bisa berubah dengan sendirinya. Itulah yang menyebabkan bahwa komunikasi selalu berkembang dari waktu ke waktu.

“Jika kita menerima konsep  dari suatu proses, kita memandang bahwa peristiwa dan hubungan adalah suatu proses yang dinamis, terus-menerus, berubah secara terus-menerus, berlanjut. Ketika kita menyatakan komunikasi sebagai suatu proses, itu juga berarti bahwa komunikasi tersebut  tidak mempunyai suatu permulaan, suatu akhir, suatu urutan peristiwa yang telah ditetapkan. Komunikasi tidaklah  statis/diam/tetap, tetapi komunikasi itu bergerak. Unsur-unsur didalam suatu proses saling berhubungan; masing-masing mempengaruhi satu sama lain.” (David K. Berlo : 2001)

Model ini searah dengan definisi model yang diungkapkan oleh Tubbs, Schramm, Newcomb, Westley dan Maclean, serta Gudykunst dan Kim.

Model ini menganggap komunikasi sebagai suatu transaksi diantara partisipan komunikasi (dalam konvergen istilah komunikator dan komunikan, diganti menjadi satu nama saja, yaitu partisipan atau peserta komunikasi), yang setiap orang memberikan kontribusi pada transaksi itu, meskipun dalam derajat yang  berbeda. Terlebih lagi model ini berlaku untuk situasi komunikasi antarpersonal (Interpersonal Communocations) maupun komunikasi massa (Mass Communications).

 

3.     Model menurut tokoh komunikasi

A.   Model Stimulus – Respons

Model ini merupakan model yang paling dasar dalam ilmu komunikasi. Model ini menunjukan komunikasi sebagai sebuah proses aksi reaksi. Model ini beranggapan bahwa kata-kata verbal, tanda-tanda nonverbal, gambar-gambar, dan tindakan akan merangsang orang lain untuk memberikan respon dengan cara tertentu. Kita dapat juga mengatakan bahwa proses ini merupakan perpindahan informasi ataupun gagasan. Proses ini dapat berupa timbal balik dan mempunyai efek yang banyak. Setiap efek dapat merubah perilaku dari komunikasi berikutnya. Model ini mengabaikan komunikasi sebagai sebuah proses. Dengan kata lain, komunikasi dianggap sebagai hal yang statis. (Deddy Mulyana : 2000)[3]

B.    Model Aristoteles

Model ini merupakan model yang paling klasik dalam ilmu komunikasi. Bisa juga disebut sebagai model retorikal. Model ini membuat rumusan tentang model komunikasi verbal yang petama. Komunikasi terjadi saat pembicara menyampaikan pesannya kepada khalayak dengan tujuan mengubah perilaku mereka. Model ini mempunyai 3 bagian dasar dari komunikasi. pembicara (speaker), pesan (message), dan pendengar (listener). Model ini lebih berorientasi pada pidato. Terutama pidato untuk mempengaruhi orang lain. Menurut Aristoteles, pengaruh dapat dicapai oleh seseorang yang dipecaya oleh publik, alasan, dan juga dengan memainkan emosi publik.

Tapi model ini juga memiliki banyak kelemahan. Kelamahan yang pertama adalah, komunikasi dianggap sebagai fenomena yang statis. Kelemahan yang kedua adalah, model ini tidak memperhitungkan komunikasi non verbal dalam mempengaruhi orang lain. Meskipun model ini mempunyai banyak kelemahan, tapi model ini nantinya akan menjadi inspirasi bagi para ilmuwan komunikasi untuk mengembangkan model komunikasi modern. (Deddy Mulyana : 2000)[4]

C.   Model Lasswell

Model ini menggambarkan komunikasi dalam ungkapan who says what in which channel to whom with what effect. atau dalam bahasa Indonesia adalah, siapa mengatakan apa dengan medium apa kepada siapa dengan pengaruh apa??

Model ini menjelaskan tentang proses komunikasi dan fungsinya terhadap masyarakat. Lasswell berpendapat bahwa di dalam komunikasi terdapat tiga fungsi. Yang pertama adalah pengawasan lingkungan. Lalu hubungan dari setiap bagian sosial yang terpisah yang memberikan respon kepada lingkungan.Dan yang terakhir adalah transmisi masyarakat dari satu generasi ke generasi lainnya.

  1. Who (siapa/sumber) 

Who dapat diartikan sebagai sumber atau komunikator yaitu, pelaku utama atau pihak yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi dan yang memulai suatu komunikasi.

  1. Says what (pesan)

Says menjelaskan apa yang akan disampaikan atau dikomunikasikan kepada komunikan (penerima), dari komunikator (sumber) atau isi informasi.

  1. In which channel (saluran/media)

Saluran/media adalah suatu alat untuk menyampaikan pesan dari komunikator (sumber) kepada komunikan (penerima) baik secara langsung (tatap muka).

  1. To whom (siapa/penerima)

Sesorang yang menerima siapa bisa berupa suatu kelompok, individu, organisasi atau suatu Negara yang menerima pesan dari sumber.

  1. With what effect (dampak/efek)

Dampak atau efek yang terjadi pada komunikan (penerima) seteleh menerima pesan dari sumber seperti perubahan sikap dan bertambahnya pengetahuan.

Sama seperti model komunikasi lainnya, model ini juga mendapat kritik. Hal itu dikarenakan model ini terkesan seperti menganggap bahwa komunikator dan pesan itu selalu mempunyai tujuan. Model ini juga dianggap terlalu sederhana. Tapi, sama seperti model komunikasi yang baik lainnya, model ini hanya fokus pada aspek-aspek penting dalam komunikasi. (Deddy Mulyana : 2000)[5]

D.   Model Shannon dan Weaver

Model ini membahas tentang masalah dalam mengirim pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Model ini mengandaikan sebuah sumber daya informasi (source information) yang menciptakan sebuah pesan (message) dan mengirimnya dengan suatu saluran (channel) kepada penerima (receiver) yang kemudian membuat ulang (recreate) pesan tersebut. Dengan kata lain, model inim mengasumsikan bahwa sumberdaya informasi menciptakan pesan dari seperangkat pesan yang tersedia. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi sinyal yang sesuai dengan saluran yang dipakai. Saluran adalah media yang mengirim tanda dari pemancar kepada penerima. Di dalam percakapan, sumber informasi adalah otak, pemancar adalah suara yang menciptakan tanda yang dipancarkan oleh udara. Penerima adalah mekanisme pendengaran yang kemudian merekonstruksi pesan dari tanda itu. Tujuannya adalah otak si penerima. Dan konsep penting dalam model ini adalah gangguan. Model ini menganggap bahwa komunikasi adalah fenomena statis dan satu arah. Dan juga, model ini terkesan terlalu rumit. (Deddy Mulyana : 2000)[6]

E.    Model Schramm

Komunikasi dianggap sebagai interaksi dengan kedua pihak yang menyandi (encode) – menafsirkan (interpret) – menyandi ulang (decode) – mentransmisikan (transmit) – dan menerima sinyal (signal). Schramm berpikir bahwa komunikasi selalu membutuhkan setidaknya tiga unsur : sumber (source), pesan (message), dan tujuan (destination. Sumber dapat menyandi pesan, dan tujuan dapat menyandi balik pesan, tergantung dari pengalaman mereka masing-masing. Jika kedua lingkaran itu mempunyai daerah yang sama, maka komunikasi menjadi mudah. Makin besar daerahnya akan berpengaruh pada daerah pengalaman (field of experience) yang dimiliki oleh keduanya. Menurut Schramm, setiap orang di dalam proses komunikasi sangat jelas menjadi encoder dan decoder. Kita secara konstant menyandi ulang tanda dari lingkungan kita, menafsirkan tanda itu, dan menyandi sesuatu sebagai hasilnya. Proses kembali di dalam model ini disebut feedback, yang memainkan peran penting dalam komunikasi. Karena hal ini membuat kita thau bagaimana pesan kita ditafsirkan. (Deddy Mulyana : 2000)[7]

F.    Model Newcomb

Theodore Newcomb (1953) melihat komunikasi dari pandangan sosial psokologi. Model ini juga dikenal dengan nama model ABX. Model ini menggambarkan bahwa seseorang (A) mengirim informasi kepada orang lain (B) tentang sesuatu (X). Model ini mengasumsikan bahwa orientasi A ke B atau ke X tergantung dari mereka masing-masing. Dan ketiganya memiliki sistem yang berisi empat orientasi.

  1. Orientasi A ke X
    2. Orientasi A              ke   B
    3. Orientasi B              ke   X
    4. Orientasi B              ke   A

Dalam model ini, komunikasi adalah suatu hal yang lumrah dan efektif yang membuat orang-orang dapat mengorientasikan diri mereka kepada lingkungannya. Ini adalah model tindakan komunikasi yang disengaja oleh dua orang. (Deddy Mulyana : 2000)[8]

G.   Model Westley dan Maclean

Model ini berbicara dalam dua konteks, komunikasi interpersonal dan massa. Dan perbedaan yang paling penting diantara komunikasi interpersonal dan massa adalah pada umpan balik (feedback). Di interpersonal, umpan balik berlangsung cepat dan langsung, sedang di komunikasi massa, umpan baliknya bersifat tidak langsung dan lambat.

Dalam komunikasi interpersonal model ini, terdapat lima bagian : orientasi objek (object orientation), pesan (messages), sumber (source), penerima (receiver), dan umpan balik (feedback). Sumber (A) melihat objek atau aktivitas lainnya di lingkungannya (X). Yang lalu membuat pesan tentang hal itu (X’) dan kemudian dikirimkan kepada penerima (B). Pada kesempatan itu, penerima akan memberikan umpan balik kepada sumber. Sedang komunikasi massa pada model ini mempunyai bagian tambahan, yaitu penjaga gerbang (gate keeper) atau opinion leader (C) yang akan menerima pesan (X’) dari sumber (A)atau dengan melihat kejadian disekitarnya (X1, X2. Lalu opinion leader membuat pesannya sendiri (X”) yang akan dikirim kepada penerima (B). Sehingga proses penyaringan telah terbentuk.

Ada beberapa konsep yang penting dari model ini: umpan balik, perbedaan dan persamaan antara komunikasi interpersonal dan massa dan opinion leader yang menjadi hal penting di komunikasi massa. Model ini juga membedakan antara pesan yang bertujuan dan tidak bertujuan. (Deddy Mulyana : 2000)[9]

H.   Model Berlo

Model ini juga dikenal sbg model SMCR. Sumber (Source), pesan (Message), saluran (Channel), dan penerima (Receiver). Sumber adalah pembuat pesan. Pesan adalah gagasan yang diterjemahkan atau kode yang berupa simbol-simbol. Saluran adalah media yang membawa pesan. Dan penerima adalah target dari komunikasi itu sendiri.

Menurut model ini, sumber dan penerima dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut : kemampuan berkomunikasi, perilaku, pengetahuan, sistem sosial, dan budaya. Pesan merupakan perluasan yang berdasarkan elemen, struktur, isi, pemeliharaan, dan kode. Dan saluran adalah panca indera manusia. Hal yang positif dari model ini adalah, model ini dapat mencakup perlakuan dari komunikasi massa, publik, interpersonal, dan komunikasi tertulis. Model ini juga bersifat heuristic. Tapi, model ini juga memiliki kelemahan. Model ini menganggap komunikasi sebagai fenomena yang statis. Tidak ada umpan balik. Dan komunikasi nonverbal dianggap sebagai hal yang tidak penting. (Deddy Mulyana : 2000)[10]

I.      Model Defleur

Model ini merupakan model komunikasi massa. Dengan menyisipkan perangkat medium massa dan perangkat umpan balik. Model ini menggambarkan sumber, pemancar, penerima, dan tujuan sebagai fase yang terpisah dalam proses komunikasi massa. Fungsi dari penerima dalam model Defleur adalah menerima informasi dan menyandikannya.

Menurut Defleur, komunikasi bukanlah sebuah pemindahan makna. Komunikasi terjadi dengan seperangkat komponen operasi di dalam sistem teoritis, dengan konsekuensinya adalah isomorpis diantara internal penerima kepada seperangkat simbol kepada sumber dan penerima. (Deddy Mulyana : 2000)[11]

J.     Model Tubbs

Model ini sepenuhnya berbicara tentang komunikasi antara 2 orang. Model ini sesuai dengan konsep komunikasi sebagai transaksi. Yang mengasumsikan bahwa 2 orang komunikator sebagai pengirim pesan (sender) dan sekaligus sebagai penerima pesan (receiver). Saat kita berbicara (mengirim pesan), sebenarnya kita sekaligus mengamati tingkah laku lawan bicara kita dan kita bereaksi terhadap itu. Proses itu bersifat timbal balik dan juga spontan dan serentak. Pesan di dalam model ini dapat berupa verbal maupun non verbal. Dapat disengaja maupun tidak. Salurannya berupa panca indera. Ada dua jenis gangguan di model ini : teknis dan semantik. Gangguan teknis adalah faktor yang membuat penerima merasakan perubahan di dalam sebuah informasi. Gangguan semantik adalah pemberian makna yang berbeda tentang representasi yang dikirim oleh sumber.

Singkatnya, walaupun di model ini komunikator 1 dan 2 mendapatkan aspek yang sama : masukan, penyaringan, pesan, saluran, dan gangguan. Aspek-aspek itu berbeda isinya. (Deddy Mulyana : 2000)[12]

K.   Model Gudykunst dan Kim

Model ini sebetulnya adalah model komunikasi antar budaya. Model ini pada dasarnya sesuai untuk komunikasi langsung, khususnya untuk dua orang. Karena, tidak ada dua orang di dunia ini yang memiliki budaya, budaya sosial, dan budaya psikologi yang sama persis.

Model ini mengasumsikan dua orang yang sejajar dalam berkomunikasi, masing-masing dari mereka sebagai pengirim sekaligus penerima, atau keduanya sebagai penyandi (encoding) dan penyandi balik (decoding). Karena hal itulah, kita dapat melihat bahwa pesan dari seseorang merupakan umpan balik untuk yang lainnya. Pesan / umpan balik diantara mereka diwakilkan oleh sebuah garis dari sandi seseorang kepada sandi balik dari yang lainnya. Dua garis itu menunjukan bahwa setiap orang dari kita itu berkomunikasi. Kita menyandi dan menyandi balik pesan dalam satu waktu. Dengan kata lain, komunikasi bukanlah hal yang statis, kita tidak akan menyandi sebuah pesan dan melakukan apapun sampai kita mendapat umpan balik. Aspek yang melengkapi model ini adalah lingkungan. Lingkungan mempengaruhi kita dalam menyandi dan menyandi balik suatu pesan. (Deddy Mulyana : 2000)[13]

BAB. III

PENUTUP

1.     Kesimpulan

Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang mampu memberikan manfaat positif baik itu terhadap komunikan, maupun komunikator. Komunikasi yang sukses tidak luput dari kelancaran proses komunikasi tersebut, sehingga dapat diterima baik oleh komunikan meskipun tetap ada noise didalam tahap prosesnya.

Meskipun banyak model-model komunikasi yang diungkapkan oleh para ahli komunikasi. Model utama dari suatu komunikasi dibagi menjadi tiga bagian. Model Linear, Model Jarum (Arus balik), dan Model Sirkuler.

Dari ketiga model  utama tersebut. Komunikasi bisa memiliki cabang-cabang model, yang banyak diungkapkan oleh para ahli di bidang komunikasi. Sehingga menjadikan teori dalam komunikasi ini lebih kompleks dan beragam model didalamnya. Pada hakikatnya, setiap model yang para ahli ungkapkan adalah suatu pengembangan dari ketiga konsep model dasar komunikasi ini. Tinggal cara kita saja menjadi masyarakat agar lebih selektif dan memahami peristiwa atau kejadian yang terjadi di sekitar kita. Dan lebih memahami konsep-konsep model dalam komunikasi. Serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

2.     Saran

Semoga, paper yang penulis susun ini, dapat memberikan manfaat terhadap pembaca. Baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Agar kehidupan kita dalam bermasyarakat khususnya dalam berkomunikasi dengan siapa saja dapat lebih baik lagi. Karena, manusia tidak akan dapat hidup tanpa adanya komunikasi terhadap sekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Deddy Mulyana, M.A. (2010), Ph.D. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Rosda: Jakarta.

Vivian, John (2008). Teori Komunikasi Massa (Hal:454-457), edisi kedelapan. Jakarta: Kencana.

Ardianto, Elvinaro (2011). Filsafat Ilmu Komunikasi (Hal:25-32), edisi ketiga. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

http://komunikasiwongsolo.blogspot.co.id

[1] Teori Komunikasi Massa (Hal:454-457), edisi kedelapan.

[2] http://aniromaningsih.blogspot.co.id/2015/05/makalah-model-model-komunikasi.html

[3] http://komunikasiwongsolo.blogspot.co.id/2009/10/model-stimulus-respons.html

[4] http://komunikasiwongsolo.blogspot.co.id/2009/10/model-aristoteles.html

[5] http://komunikasiwongsolo.blogspot.co.id/2009/10/model-lasswell.html

[6] http://komunikasiwongsolo.blogspot.co.id/2009/10/model-shannon-dan-weaver.html

[7] http://komunikasiwongsolo.blogspot.co.id/2009/10/model-schramm.html

[8] http://komunikasiwongsolo.blogspot.co.id/2009/10/model-newcomb.html

[9] http://komunikasiwongsolo.blogspot.co.id/2009/10/model-westley-dan-maclean.html

[10] http://komunikasiwongsolo.blogspot.co.id/2009/10/model-berlo.html

[11] http://komunikasiwongsolo.blogspot.co.id/2009/10/model-defleur.html

[12] http://komunikasiwongsolo.blogspot.co.id/2009/10/model-tubbs.html

[13] http://komunikasiwongsolo.blogspot.co.id/2009/10/model-gudykunst-dan-kim.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s